EDUKASITERKINI.com—Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menunjukkan diri sebagai perguruan tinggi swasta terbaik di luar pulau jawa dan menjadi salah satu pusat pengembangan unggulan (Center of Excellence) di Indonesia.

Terbaru, UMI dipilih Pelaksana Tugas Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman bekerjasama mengembangkan budidaya udang windu di Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang.

Lokasi tambak ini berada di kawasan pengembangan budidaya udang windu 1000 hektar ramah lingkungan (Pandawa-1000).

Andi Sudirman Sulaiman melakukan penebaran 30 ribu ekor benih (benur) udang windu dan panen ikan kakap di Jampue, Desa Waetuoe, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, baru-baru ini.

Penebaran benur ini dilakukan bersama Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid, Anggota DPRD Sulsel, Andi Azizah Irma Wahyudiyati, Hardy Haris (Plt. Kadis Kelautan dan Perikanan Sulsel), Prof. M.Hatta Fattah (dosen FPIK UMI dan anggota TA-TGUPP), Darmawan (Kepala Balai BMKG Wilayah IV Makassar), Supito (Kepala BBAP Takalar), dan para unsur Forkopimda Pinrang.

Plt Gubernur, Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan, udang windu menjadi salah satu prioritas Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

“Kita prioritaskan pengembangan udang windu karena itu diperlukan rumusan bersama bagaimana kita mengembalikan kejayaan udang windu. Mudah-mudahan kakap dan udang windu dari Lanrisang yang terkenal terus dikembangkan untuk kepentingan masyarakat luas dan kemajuan daerah,” ungkapnya.

Sebagai bentuk keseriusan itu, Plt Gubernur Sulsel melalui Dinas Perikanan dan Kelautan menggelontorkan anggaran Rp 1,5 Miliar untuk benur udang windu di Pinrang.

Pada kawasan Pandawa-1000 ini bekerjasama UMI dan BMKG dilakukan pengembangan dan pemasangan alat yang dapat mendeteksi perubahan cuaca dan kualitas air yang disebut AlliRy.

AlliRy akan dikembangkan UMI bersama dengan BMKG untuk penanggulangan kerentanan Kawasan Budidaya Udang di Indonesia dan menjadi produk inovasi nasional.

“Setelah kita seleksi, dari 10 Kabupaten/Kota, kita akhirnya memilih Pinrang. Dan kita dorong itu. Bagaimana pengembangan udang windu ini menjadi pekerjaan bersama. Bagaimana kita sinergikan dengan perguruan tinggi, stakeholder terkait, dan petani. Kalau perlu ada TNI-Polri yang bekerja bersama untuk mengawasi,” ungkapnya.

Bahkan sebagai wujud keseriusan Andi Sudirman, dirinya pun menginstruksikan Plt Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulsel memantau budidaya udang.

Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid mengatakan, bahwa kehadiran Plt Gubernur Sulsel sangat dinantikan oleh masyarakat Lanrisang. “Penebaran benur ini juga untuk menguji kreativitas orang Pinrang yang bisa memadukan antara ikan Kakap dan udang windu. Juga untuk menguji kreativitas orang Pinrang yang bisa memadukan antara ikan Kakap dan udang windu,” katanya.

Budidaya udang windu dan kakap dikembangkan berdasarkan hasil penelitian Prof. Hattah kerjasama Pemkab Pinrang dan UMI.

Lebih lanjut Prof. Hattah menjelaskan, selama ini ikan kakap dipandang sebagai pemangsa atau predator udang windu di tambak. Melalui pengembangan Sistem dan Teknologi Budidaya spesifik kedua komoditas dapat

dibudidayakan secara polikultur dan menghasilkan nilai tambah peningkatan pendapatan masyarakat.

Diketahui, Pandawa-1000 merupakan inovasi pengembangan budidaya udang windu (Penaeus monodon) berbasis kawasan (ecosystem approach to aquaculture) dan teknologi adaptif lokal pada areal seluas 1.011,6 hektar di Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang.

Hadirnya Pandawa-1000 untuk mengembalikan kejayaan udang windu Sulsel setelah koleps sejak tahun 1998.

Teknologi adaptif yang dikembangkan berbasis pada teknologi budidaya dengan pendekatan ramah lingkungan (ecofriendly) tanpa residu bahan kimia, pestisida, dan obat-obatan.

Itu sesuai standar Indonesian Good Aquaculture Practice (Indo GAP) untuk menghasilkan udang windu jenis eco- shrimp kualitas premium terbaik di Indonesia berdasarkan British Retail Consortium (BRC) yang dipasarkan ke Jepang melalui Alter Trade Japan (ATJ). Teknologi adaptif budidaya udang windu ramah lingkungan telah dikembangkan UMI sejak tahun 2007 di Pinrang.

Dalam teknologi Pandawa 1000 dilakukan pelibatan stakeholder multi helix dari sektor hulu hingga hilir. Dengan melibatkan 733 orang pembudidaya di Lanrisang dengan target produksi rata-rata 300 kg/musim tanam.

Adapun benur yang akan ditebar pada kawasan untuk 1000 ha ini sebanyak 30 juta ekor atau 30 ribu benur per hektar. Benur dipasok dari BBAP Takalar, UPT Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel serta hatchery milik swasta setelah memenuhi standar tertentu. (arso).

 81 total views,  1 views today

By Muhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *