EDUKASITERKINI.COM.MAKASSAR—Terus terang,awalnya, mondok di Pesantren memang cukup berat bahkan pernah meneteskan air mata. Berharap kelak mandiri, setamat SD di Bone, orang tua langsung memasukkannya ke pesantren IMMIM Putri di Minasatene, Kabupaten Pangkep.

Pendidikan di Pesantren mengajarkan dan mendidik banyak hal, terutama prinsip kemandirian, tidak cengeng, saling menghargai dan berbagi sesama. Apalagi diantara kami, ada prinsip senasib sepenanggungan. Cukup beralasan, karena ”sama-sama anak perantau”. Perantau dalam artian tinggalkan kampung halaman dan orang tua untuk menuntut ilmu.

Kenangan itu dikemukakan alumni Pesantren IMMIM Putri Minasa Te’ne Pangkep, Dr Hj Nurjannah Abna,SS.M.Pd saat EDUKASITERKINI mintai tanggapannya bertepatan peringatan Hari Santri Nasional, Jumat (22/10). UntukSulsel, puncak hari santri dipusatkan di Kampus II Pesantren IMMIM Putra di Moncongloe, Maros.

”Paling berkesan, jika ada kiriman orang tua dari kampung, meski tak banyak, namun dia berupaya berbagi. Terkadang, jika mau berbagi ke teman, jika kebetulan teman tak berada dalam kamarnya, maka pembagian ole-ole dari kampung, kami titip di tempat tidurnya, dekat bantal,” kenang Nurjannah.

Hal lain yang berkesan, kata Jannah yang kini memangku amanah Kepala Humas,Protokol dan Kerjasama UMI itu, ada program pihak pesantren IMMIM Putri, agar para santrinya menguasai percakapan Bahasa Arab dan Bahasa Inggeris. Jika kedapatan ada berbahasa Indonesia, apalagi bahasa Bugis, santri pasti dapat hukuman atau denda.

”Masalahnya, saya ini besar di daerah Bugis, jadi bahasa Bugis ku sangat lancar,” ungkap Jannah seraya tertawa kecil mengenang pengalamannya saat menimba ilmu di pesantren IMMIM Putri puluhan tahun silam.

Saat itu, santri yang berbahasa Indonesia atau Bahasa Bugis mudah ketahuan, karena memang dalam lingkungan Pesantren ternyata ada ”petugas piket rahasia” yang tugasnya memantau pelanggaran berbahasa.

Meski demikian, hukuman pelanggar bahasa, bentuknya hukuman yang sangat mendidik. Diantaranya, diharuskan hafal tenses Bahasa Inggeris dan harus hafal kosa kata bahasa Arab/Inggeris dalam jumlah tertentu, ujar pengurus Muslimat NU Sulsel ini.

Menyinggung dasar-dasar kepemimpinan selama di pesantren, Jannah yang baru-baru ini jadi Presenter The 3rdInternationalon halal,policy,culture and Sustainability Issues di UMI itu mengaku, konsep dasar kepemimpinan

juga diperoleh di pesantren. Karena saat kelas 2 SMA, santri sudah diberi tanggung jawab. Termasuk bagaimana membina adik-adik tingkatnya dalam banyak aspek.

”Bagi kami, berbagai bekal ilmu yang diperoleh dalam lingkungan pendidikan pesantren, sangat mendukung pembentukan jati diri dan bagaimana memahami orang lain. Manfaat itu banyak berguna, ketika kita sudah meninggalkan Pondok Pesantren dan hidup berbaur dan sosialisasi dengan masyarakat umum,” ungkap Nurjannah Abna yang pernah mengikuti Program Australia Award Short Course Scholarship for Muslim Momen Leadership 2017 di Australia itu. (muhammad arafah).

 118 total views,  1 views today

By Muhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *