EDUKASITERKINI.COM.MAKASSAR—Tingginya pemanfaatan wilayah pesisir menyebabkan terjadinya eksplorasi berlebihan, sehingga terjadi kerusakan berupa abrasi, pencemaran dari aktifitas industri, rumah tangga dankegiatan lainnya.

Hal ini diperparah semakin berkurangnya hutan mangrove akibat konversi menjadi tambak, permukiman dan penebangan untuk kepentingan rumah tangga berupa kayu bakar dan lain-lain.

Mangrove jenis tanaman dikotil hidup di habitat air payau dan air laut dan tanaman hasil dari kegiatan budidaya atau diambil dari alam.

Selain bermanfaat untuk wilayah pesisir, manfaat lainnya untuk kesehatan dapat dijadikan bahan baku kosmetik/farmasi atau bahan tambahan untuk pewarna tekstil.

Hutan mangrove, salah satu jenis hutan dan banyak ditemukan di kawasan muara berstruktur tanah rawa dan/atau padat. Mangrove salah satu solusi yang sangat penting mengatasi berbagai jenis masalah lingkungan terutama kerusakan lingkungan disebabkan rusaknya habitat untuk hewan. Kerusakan tak hanya berdampak ke hewan, tapi juga manusia. Mangrove jadi pelindung lingkungan yang sangat besar.

Di tengah sulitnya pemerintah penuhi kewajiban Ruang Terbuka Hijau (RTH) 30%, sesuai amanat UU 27/2007 tentang RTRW, kawasan pesisir mungkin bisa jadi alternatif. Pertimbangannya, dapat dikembangkan ke arah laut dan tersedia benih cukup banyak.

Sebagai gambaran, RTH di Kota Makassar saat ini hanya sekitar 9%. Di Kelurahan Bira Kecamatan Tamalanrea, khususnya di Lantebung terdapat Kawasan Mangrove masih bagus dan telah berkembang menjadi tujuan wisata.

Awalnya, mangrove tumbuh alami, lalu dikembangkan warga setempat dipelopori Pak Saraba. Tahun 2014-2017 melalui CCDP-IFAD Kota Makassar, Kawasan ini dapat bantuan pengembangan, berupa pondok informasi, pembibitan, penanaman, perluasan areal penanaman dan tracking mangrove.

Selain itu, dibentuk juga kelompok pengolah hasil perikanan yang juga tetap eksis berproduksi hingga kini. Salah satu produk unggulannya, kacang garing yang diolah dengan daging kepiting rajungan. Konsep pengembangannya dirancang Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI, Dr. Ir. Andi Tamsil, MS dan Dr. Ir. Rustam, MS, yang saat itu Konsultan CCDP-IFAD Kota Makassar.

Berkat keseriusan dan konsistensi kelompok yang dipelopori Pak Saraba, berbagai pihak ikut berpartisipasi dalam pengembangannya, baik pemerintah, Perguruan Tinggi, BUMN, Ormas, Mahasiswa dan masyarakat umum.

Dukungan lain terlihat, ketika ada pihak berupaya memanfaatkan Kawasan mangrove untuk kepentingan lain, dengan menebang mangrove gunakan alat berat. Saat itu protes dilakukan dengan berbagai upaya, hingga upaya penebangan dihentikan.

Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dilaksanakan Penyuluhan dan pelatihan penanaman mangrove bagi kelompok masyarakat, dan upaya-upaya agar Kawasan dapat berkelanjutan oleh Dr. Ir. Andi Tamsil, MS dan Dr. Ir. Hasnidar, MS, Sabtu 23 Oktober 2021.

Para akademisi itu dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan difasilitasi Lembaga Pengabdian Masyarakat UMI. Hadir Kelompok Jekomala yang selama ini jadi pengelola dan penggerak di Kawasan Mangrove Lantebung.

Hadir pula, kelompok pelestari dari kalangan millennial. Mereka diharapkan pelanjut, sekaligus diharap lahirkan inovasi baru. Selain itu juga didiskusikan pengembangan ekowisatanya, pengembangan kelompok pengolah hasil perikanan dan pengembangan bank sampah.

Pelaksanaan kegiatan PKM berupa penyuluhan, tentang pentingnya ekosistem mangrove bagi pesisir dan laut, aspek biologi, aspek ekologi, spek fisika dan aspek kimia mangrove, pemanfaatan mangrove. Selanjutnya karakteristik ekosistem mangrove; teknik/metode pembibitan mangrove, teknik/metode penanaman mangrove, teknik/metode pemelilaraan mangrove.

Dalam diskusi, juga dipaparkan manfaat mangrove antara lain penyedia nutrisi, berperan pada rantai makanan, menjernihkan air, melindungi pantai, tempat berlabuh kapal dan sumber kayu bakar.

Khusus manfaat tanaman bakau di bidang kesehatan, mengobati penyakit dalam, diare, kusta, demam, sakit gigi, melancarkan haid, diabetes, Sakit ginjal dan kaki gajah.

Kegiatan dilanjutkan pelatihan, meningkatkan pemahaman dan keterampilan kelompok tentang ekosistem mangrove, membantu memecahkan masalah penanganan ekosistem mangrove; dan membantu meningkatkan pendaran masyarakat tentang pentingnya ekosistem mangrove.

Kelompok masyarakat berterima kasih atas pelaksanaan kegiatan. Mereka berharap, agar pendampingan dan pembinaan dilakukanberkesinambungan. Bahkan berharap dapat menjadi binaan UMI, dengan berbagai kegiatan sesuai potensi Lantebung.

Selain itu, masyarakat juga berharap semua pihak, khususnya pemerintah, agar Kawasan Mangrove Lantebung dipertahankan keberadaannya dan tidak dikonversi menjadi peruntukan lain. Pertimbangannya, tidak banyak lagi wilayah pesisir yang bisa seperti Lantebung, khususnya di Makassar. (***).

 97 total views,  1 views today

By Muhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *