EDUKASITERKINI.MAKASSAR.COM—Idealnya, kewajiban orang tua itu, mendidik anaknya agar kelak memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Hanya saja, untuk mewujudkannya, tak semudah membalik telapak tangan.

Bagi orang tua yang terbilang sibuk, sehingga memiliki waktu minim untuk mendidik anaknya di rumah, menitipkan anaknya di lembaga pendidikan yang dinilai memiliki kemampuan memberikan kedua kecerdasan tersebut sekaligus mondok di pesantren, merupakan sebuah tawaran solusi.

Pemikiran tersebut dikemukakan calon Doktor Hukum Program Pascasarjana (PPs) UMI, Drs H Laode Arumahi,MH saat EDUKASITERKINI mintai tanggapannya bertepatan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2021, Jumat (22/10). Khusus untuk tingkat Sulsel,HSN dipusatkan di kampus II Pesantren IMMIM di MoncongloE, Maros.

Menyadari perlunya kedua jenis kecerdasan itu, lanjut Arumahi, alhamdulillah, atas berbagai pertimbangan, tiga putranya dimasukkan mondok di Pesantren IMMIM Putra Makassar.

”Harapan kami, minimal sejak dini, dasar-dasar kecerdasan intelektual dan spiritual mereka sudah miliki dan sangat berguna dalam kehidupannya sekarang ini,” tandas Laode Arumahi.

Tiga anak kami yang pernah menimba ilmu di Pesantren IMMIM tersebut, Muhammad Nahdi Arumahi,Ahmad Nahli Arumahi dan Imam Mahdi Arumahi. Dari tiga bersaudara, dua start mondok di SMA IMMIM dan dua lainnya start mondok sejak SMP. Rupanya yang start di SMP, terpengaruh kakaknya yang start di SMA IMMIM.

Ketika ditanya, kenapa tertarik mau mondok pesantren, jawabannya sangat singkat ”Ingin pintar seperti kakakku,” kata Arumahi mengutip pengakuan kedua putranya.

Dibagian lain, Arumahi mengakui, menyekolahkan anak di pesantren juga penuh tantangan. Tantangan awal yang dihadapinya, dari sang nenek. Karena nenek dari anak kami menilai, orang tua tidak mau atau tak sanggup mendidik anak.

”Rupanya, sang nenek, ada kekhawatiran, ketika cucunya berada dalam Pondok Pesantren, takutnya nanti menderita atau tak terjamin makanan dan tidurnya. Selanjutnya ada pemikiran sang nenek tak bisa atau sulit ketemu cucunya, jika ke Makassar. Kebetulan orang tua/mertua kami berdomisili di luar kota Makassar,” ungkapnya.

Namun alhamdulillah, setelah dijelaskan dan diikutkan menjenguk cucunya, apalagi melihat fasilitas kampus pesantren, akhirnya lambat laun sang nenek bisa menerima cucunya agar tetap menuntut ilmu di pesantren,” kata Arumahi yang kini memangku amanah sebagai Ketua Bawaslu Sulsel ini. (muhammad arafah).

 109 total views,  1 views today

By Muhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *