EDUKASITERKINI.COM.MAKASSAR–Setelah aqad nikah, dia selalu berdoa pada Allah Swt, jika dianugerahi keturunan, kami berjanji, anak akan diarahkan ke pendidikan agama.

Ketika anaknya mulai besar, awalnya, ada niat masukkan anak bersekolah di Pondok Pesantren Gontor di Jawa, kebetulan ada teman, anaknya sekolah di Gontor.

Namun rencana tersebut batal, karena ada perasaan tak tahan lama berpisah jauh anak. Kebetulan, saat itu ada aturan di Pesantren Gontor, jadwal ketemu anak, hanya boleh sekali setahun.

Solusinya, dia cari pesantren yang punya reputasi baik dan pilihan jatuh ke Pesantren Modern Pendidikan Alquran IMMIM Makassar. Sejarah mencatat, pesantren IMMIM didirikan salah satu tokok kharismatik dan religius, H Fadeli Luran tanggal 14 Januari 1975 M bertepatan 1 Muharram 1395 H.

Hal tersebut dikemukakan M Saleh Kasau,SH saat EDUKASITERKINI.COM minta komentarnya terkait peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2021, Jumat (22/10). Khusus untuk Sulsel, acara puncak di Kampus II Pesantren IMMIM Putra, MoncongloE, Maros.

”Kebetulan kami alumni Fakultas Hukum UMI dan pernah baca sejarah perkembangan UMI. Di era1970-an saat UMI kesulitan/krisis keuangan pasca pengintegrasian ke IAIN Alauddin (kini UIN), saat itu Pangdam XIV/Hasanuddin, Brigjen A Azis Bustam turun tangan dan membentuk TIM TIGA,” kata Saleh Kasau.

TIM TIGA tersebut, lanjut Saleh Kasau terdiri dari Brigjen A Azis Bustam (Pangdam XIV/Hasanuddin) bersama H Fadeli Luran (Tokoh Masyarakat) dan Letkol HM Dg Patompo (Walikota Makassar) sepakat membentuk Yayasan

Wakaf UMI. Alhamdulillah hingga 2021, UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetap eksis dan baru-baru ini meraih akreditasi INSTITUSI UNGGUL dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Alhamdulillah, kata pengacara ini, tiga mi anaknya menyelesaikan studi di Pesantren IMMIM. Kini ada proses penyelesaian studi di Fakultas Hukum UMI, ada juga kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UMI dan satu lagi, Asywar Saleh, telah menyelesaikan studi S1 dan S2 konsentrasi Tafsir Alquran di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Alhamdulillah,baru-baru ini anak kami Asywar diterima kerja sebagai tenaga pengajar Tafsir Alquran di salah satu sekolah di Jawa.

”Saat ini anak bungsu kami masih kelas 3 di SMP IMMIM Tamalanrea,” kata Saleh Kasau seraya mengatakan, perlunya anak dibekali ilmu agama sebagai bekal kehidupan, terutama setelah mereka kerja dan berkeluarga kelak. Terpenting, bagaimana anak berilmu pengetahuan tinggi, namun juga makin dekat pada Allah swt. Ujung- ujungnya bagaimana merintiskan jalan agar, kelak anak bersama orang tua meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Sebagai tambahan informasi, anak kami, Muhammad Asyari Saleh ( Ponpes IMMIM, masuk 2007 hanya sampai kelas XI, kini di Fakultas Hukum UMI), Muhammad Asywar Saleh (Ponpes IMMIM, masuk 2008-2014, Alumni S1 dan S2 UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta), Tri Aggryani Saleh (Ponpes Ummul Mukminin Mks, S1 Fakultas Kedokteran Gigi UMI), Muhammad Asymin Saleh (Ponpes IMIMIM 2014 dan tamat, mahasiswa Fakultas Kedokteran UNIBOS), dan Muhammad Asymar Saleh (Ponpes IMMIM masuk 2018, kini klas IX), kata Saleh.

Manfaat yang kami rasakan, ada kebahagiaan, berkat tempaan pesantren, anak kami tertib terutama rutin shalatnya. Jika mereka pamit ke luar rumah, hati selalu tenang. Selalu ada keyakinan bathiniah, mereka tak aneh- aneh dalam pergaulan.

”Jika kami agak marah karena sesuatu hal, mereka tak pernah melawan dengan kata-kata tinggi, bahasanya perlawanannya tetap lembut dalam berargumen,” ujarnya pria yang keseharianya praktik sebagai lawyer itu.

”Bagi saya, anak itu aset dan titipan Allah Swt, sehingga pendidikan sangatlah penting. Orientasi kami bagaimana menciptakan kader berkualitas dalam tatanan Iman dan Takwa (Imtaq) dan Iptek. Sebagai orang tua kami berupaya istiqamah dan konsentrasi cari nafkah untuk keluarga, terutama membiayai studi anak.

Saleh menambahkan, ada hal menarik, anak kami Muhammad Asywar (2008-2014) saat mondok di Pesantren IMMIM, dia tak senang dikarantina pada program tahfidz. Solusinya, dia belajar hafal quran secara otodidak dan dibimbing ustadz pesantren IMMIM.

Setamat di IMMIM, dia lulus jalur undangan untuk kuliah S1 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Kemudian lanjut S2 di almamaternya UIN Syarif Hidayatullah.

Suatu ketika saat masih kuliah S1 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, anak kami Muhammad Aswar Saleh masuk Rumah Sakit. Anaknya kaget, karena banyak sekali pembezuknya. Saat itu baru ketahuan, rupanya komunitas Ikatan Alumni Pesantren IMMIM (IAPIM) kawasan Jakarta punya Grup WA dan mereka sangat kompak, tuturnya.

”Hingga kini, jika bicara Pesantren IMMIM, tiga anak kami sangat terkenang makanan khas pesantren yakni menu ikan teri gorengan yang nikmat dan itu rupanya selalu jadi jadi ciri khas cerita indah alumni IMMIM. Mungkin menu tersebut bagian dari keberkahan dan berbuah ikatan persaudaraan alumni yang solid,” tandas Saleh Kasau. (muhammad arafah).

 109 total views,  1 views today

By Muhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *