EDUKASITERKINI.COM.MAKASSAR–Program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mendorong perguan tinggi lebih inovatif dan kreatif dalam menghasilkan luaran.

Perguruan tinggi semakin dituntut untuk menyediakan luaran yang memiliki kwalitas akademis dan praktik.

Program MBKM adalah untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berdaya saing tinggi.

Faktor utama keberhasilan pembangunan di suatu negara, tersedianya SDM yang berkualitas dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi sesuai dengan perkembangan industri modern berbasis informasi yang berubah dengan cepat.

Oleh karena itu kualitas pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam pembangunan suatu negara, termasuk Indonesia.

Mengantisipasi tuntutan dan tantangan di atas, maka melalui Peraturan Presiden Nomor 41 Tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya di dunia Industri dan dunia usaha, maka diperlukan Grand Desain Teaching Factory (TEFA) melalui Program Matching Fund.

Program ini dirancang untuk meningkatkan kemanfaatan dan relevansi sekaligus menyelaraskan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di perguruan tinggi (PT) agar selaras dengan pemenuhan kebutuhan atau pemecahan permasalahan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) dan masyarakat.

Universitas Muslim Indonesia (UMI) kemudian menerjemahkan MBKM itu dengan berbagai program. Salah satunya, Matching Fund lewat Teaching Factory seperti pengelolaan Udang Windu Nasional.

Salah satu fakultas dalam lingkup UMI yang dipandang memiliki infrastruktur pembelajaran yang memadai adalah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UMI. Teaching Factory dikembangkan melalui pendanaan Matching Fund 2021 dari Kemendikbudristek.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UMI Dr. Ir Asbar M.Si mengungkapkan, Program ini miliki tiga tujuan utama. Pertama, meningkatkan kualitas lulusan, melalui Program Pengelolaan Teaching Factory dan Pendidikan Vokasi yang terintegrasi dengan Ekosistem Industri Udang Windu Nasional.

“Teaching Factory adalah bagaimana mengembangkan sebuah Industry Udang Windu yang tidak hanya berproduksi untuk penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan daerah tetapi menjadi sarana bagi Mahasiswa UMI Khususnya FPIK untuk masuk ke dalam dunia kerja, khususnya dunia Bisnis. Pendidikan Vokasi, UMI melalui program pengembangan bisnis udang secara digital,” kata Dr. Asbar, Minggu (7/11/2021).

“Para peserta yang mengikuti kedua kegiatan secara penuh akan memperoleh Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang diperlukan oleh pasar kerja,” tambah Dr.Asbar.

Pengembangan Infrastruktur Pembelajaran melalui Workshop Teaching Factory (TEFA) sarana pembelajaran dan pelatihan mahasiswa UMI menjadi Pengusaha Muda (1 – 30 November 2021).

Ke dua, kata Dr Asbar, untuk meningkatkan kualitas dosen, melalui penelitian. Dosen-dosen UMI melakukan penelitian yang diperlukan oleh industri Udang Windu sehingga menghasilkan informasi temuan baru. Melalui Penelitian akan meningkatkan kualitas dan kompetensi para dosen, meningkatkan publikasi, dan jurnal serta hak paten.

“Ke tiga, untuk meningkatkan Kualitas Kurikulum dan Pembelajaran. Dengan demikian Kurikulum UMI harus diintegrasikan dengan kebutuhan Industri Udang Windu dan Lapangan Kerja dengan berdasarkan kebutuhan. Para Pelaku Industri akan mengajar di UMI sehingga program ini akan memperbaiki kualitas kurikulum dan pembelajaran,” tuturnya.

“Pada dasarnya, program ini juga memberikan manfaat untuk mempersiapkan mahasiswa UMI khusnya FPIK UMI menjadi pengusaha dimulai dari Startup, inspirasi pengusaha sukses, merancang usaha, pengembangan produk, Serta Pameran dan Temu Bisnis,” ujarnya.

Pengembangan Infrastruktur Pembelajaran melalui Workshop Teaching Factory (TEFA) sebagai sarana pembelajaran dan pelatihan mahasiswa UMI menjadi Pengusaha Muda (1 – 30 November 2021),” sambungnya.

Dr Asbar membeberkan, dari 8 program MBKM, terdapat tiga program yang dapat diikuti oleh Mahasiswa UMI, khususnya FPIK yakni Program Magang, Program Penelitian, dan Program Wirausaha.

Tercatat, ada dua belas fasilitas pendukung Teaching Factory (TEFA) Industri Udang Windu di Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pirang yang merupakan Koperasi Dapingan UMI. Diantarannya, Instalasi Phronima, Pentokolan Berstandar, Industri Probiotik, Rumah RICA, Kawasan PANDAWA- 1.000.

Selain itu, Pengembangan Induk Lokal asal Pinrang, dan Aquaculture Vulnerability Automatic Response Instrument (ALLIRY).

Lalu, Pabrik Pakan, Satuan Unit Usaha Tambak Udang Terpadu (Lanrisang), Pembibitan Mangrove dan Pelestarian Kawasan Tambak, Edukasi dan Pemberdayaan Komunitas, serta Tata Niaga dan Pengendalian Mutu Udang Windu.

Dalam penerarapan Matching Fund untuk pengelolaan Udang Windu Nasional, UMI menghadikran lima praktisi mengajar.

Mereka Inspektur Manajer PT ATINA Hendra Gunawan bahas, Pemenuhan Ketentuan Ketelusuran dan Keamanan Pangan serta tata Niaga Udang pada Pasar Ekpor. Lalu, Wakil Ketua Komunitas Pemerhati Udang Windu Indonesia.

Selanjutnya, Ir Taufik Sabir, topik Tata Kelola Perbenihan dan Produksi Benur Udang Windu Berkualitas.

Kemudian, Ketua Komunitas Pemerhati Udang Windu Indonesia, Syarifuddin Zain, topik Tata Kelola Pabrik Pakan Mandiri dan Produksi Pakan Buatan Berkualitas.

Pemateri lainnya, Abdul Salam, Penyuluh Teladan Nasional, bahas Pengembangan Pompa Venturi Rekayasa Kualitas Air Tambak. Taufik, Pengurus Komunitas Pemerhati Udang Windu Indonesia, Abdul Waris Mawardi, SE menghantarkan topik Tata Laksana Pentokolan untuk Peningkatan Produksi Udang Windu. (hms/rls).

 133 total views,  1 views today

By Muhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *