EDUKASITERKINI.COM.MAKASSAR—Alhamdulillah, setelah berjuang eskstra dan memenuhi berbagai persyaratan, akhirnya Dosen Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri (FTI) UMI, Dr Ir LaIfa,ST,MT.IPM.ASEAN,Eng. terima SK Guru Besar, Kamis (18/11) di Lantai 9 Menara UMI, Jln. Urip Sumoharjo.

SK Guru besar dari Dikti tersebut diserahkan Kepala LLDikti Wilayah IX, Prof Jasruddin kepada Rektor UMI, Prof Dr Basri Modding, Selanjutnya Rektor menyerahkan kepada Dr Ir La Ifa,ST,MT,IPM,ASEAN,Eng.

Penyerahan disaksikan, Sekretaris Lembaga (Sesleb) Layanan Dikti Wilayah IX, Andi Lukman, para Wakil Rektor UMI, pengurus Yayasan Wakaf UMI dan Ketua Lembaga Lingkup UMI.

Rektor UMI, Prof Dr Basri Modding dalam sambutannya berterima kasih tak terhingga pada Kepala LLDikti yang sangat aktif memberikan dorongan/support serta perhatian yang begitu besar pada UMI.

”Berkat kerja bersama (berjamaah) dengan pihak internal dan ekternal termasuk dengan LLDikti, berbagai prestasi membanggakan diraih UMI. Termasuk, penerimaan SK Guru Besar Dr Ir La Ifah,ST,MT,IPM,ASEAN,Eng pada hari ini,” tandas Rektor UMI.

Sementara itu Kepala LLDikti Wilayah IX, Prof Dr Jasruddin menegaskan, pihaknya berterima kasih pada perguruan Tinggi yang mau membantu kinerja kami di LLDikti.

”Jika ada dosen raih Doktor atau dosen raih Guru Besar (Professor) ataupun pembukaan prodi baru, itu merupakan kesuksesan kami. Pertimbangannya, hal tersebut merupakan salah satu pointer dalam naskah pakta integritas kami sebagai Kepala LLDikti Wilayah IX,” tandas Jasruddin.

Dikatakannya, sebagai Kepala LLDikti Wilayah IX, pihaknya lebih berbahagia jika ada lahir Professor baru. Target kami, selama era kepemimpinannya, dia berobsesi melahirkan 30 Guru Besar (Professor). Masa tugas hampir berakhir, namun baru 29 Guru Besar yang terealisasi. Bahkan ada satu calon Guru Besar terancam gugur.

Dibagian lain sambutannya, Jasruddin bertanya. ”Mengapa perlu banyak Professor?, karena jumlah Guru Besar Indonesia sangat minim prosentasenya, jika dibandingkan Guru Besar di negara tetangga Malaysia.

”Dari segi statistik, Indonesia berpenduduk berkisar 300 juta sedangkan Malaysia berkisar antara 27-29 Juta,” tandas Jasruddin.

Rendahnya prosentase Professor Indonesia, ungkap Jasruddin, karena pengaruh masa lalu. Dulu, untuk menjadi professor, jalannya berliku-liku, berkerikil tajam dan kiri kanan terdapat jurang. Selanjutnya di ujung jalan, tak ada harapan. Makanya banyak orang enggan urus menjadi Guru Besar.

Setelah aturan baru terkait Guru Besar terbit, suasana berubah total. Jalan berkelok-kelok,kerikil tajam hilang dan kiri kanan jalan juga tanpa jurang lagi. Selanjutnya hal yang menggembirakan, di ujung jalan terdapat ”tambang emas” tunjangan. Sehingga peluang jadi Guru Besar, kini terbuka lebar, ungkap Jasruddin. (Muh. Arafah).

 121 total views,  1 views today

By Muhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *