BULUKUMBA.EDUKASITERKINI,COM—Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) ini merupakan salah satu bagian dari Tri Dharma Pergurunan Tinggi yang harus dilaksanakan civitas akademik khususnya bagi tenaga pendidik (dosen).

Untuk itu, Jeni Kamase dan St.Sukmawati.S, dosen dari Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muslim Indonesia melakukan kegiatan PkM. Jenis kegiatannya, Pemanfaatan Biji Karet sebagai Produk Olahan Emping bagi ibu-ibu pekerja kebun karet di Desa Bontomangiri, Kec.Bulukumpa, Kab.Bulukumba.

Tujuannya menambah pengetahuan dan pendapatan mereka. Kegiatan mendapat dukungan dari Kepala Desa dan ibu ketua PKK Desa Bontomangiri sehingga para ibu-ibu aktif dalam kegiatan ini.

Diharapkan agar ibu-ibu pekerja kebun karet memanfaatkan bahan-bahan yang sebelumnya menjadi limbah dan mudah diperoleh untuk dibuat keripik camilan yang lezat.

Emping biji karet, selain untuk dikonsumsi sendiri, dapat juga dijual untuk menambah pendapatan ibu-ibu pekerja di kebun karet yang tergabung pada UKM Masyarakat Bulukumba.

Terkait perkebunan karet, tidak lepas membahas biji karetnya. Ini sesuatu yang sangat menguntungkan jika hal tersebut dapat dimanfaatkan secara tepat guna, misalnya dijadikan bibit unggul atau juga dijadikan bahan makanan. Hanya fakta lapangan, petani karet banyak tidak memanfaatkan keunggulan biji karet.

Desa Bontomangiri, Kec. Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba merupakan desa yang memiliki perkebunan karet. Tanaman karet menghasilkan buah yang berbentuk unik karena buah terdiri atas ruang-ruang tertentu. Buahnya masak di usia enam bulan, buah akan pecah biji karet terlepas dari batoknya. Satu hektar perkebunan

karet dapat menghasilkan 3.000-450.000 biji /ha/tahun dengan berat 2-4 gram/biji. Satu hektar perkebunan karet dapat menghasilkan 6 -1800 kg biji karet ( Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 2012 ).

Mengutip Penelitian Listyati (2012) dalam jurnal Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, menemukan biji karet juga punya potensi tinggi yang dapat dijadikan produk olahan bergizi. Biji karet memiliki kandungan protein dan asam amino yang banyak dibutuhkan tubuh.

Minimnya penghasilan masyarakat sekitar perkebunan, membuat kesejahteraan masyarakat sekitar perkebunan berada pada tingkat pendapatan menengah ke bawah. Akses informasi teknologi pada masyarakat sangat terbatas.

Menurut Jeni Kamase dan St.Sukmawati.S, kegiatan masyarakat terutama ibu-ibu di sekitar perkebuan karet sangat monoton. Setiap harinya hanya mengurus rumah dan membantu suami menyadap karet atau menjadi buruh harian yang hanya dikontrak pada saat perkebunan membutuhkan tenaga kerja.

Biji karet selama ini hampir tidak mempunyai nilai ekonomis sama sekali dan hanya dimanfaatkan sebagai benih generatif pohon karet saja.Padahal, biji karet memiliki kandungan minyak nabati yang tinggi dan memiliki asam lemak tak jenuh yang tinggi sehingga cocok sebagai bahan baku pembuatan makanan yang sehat.

Salah satu alternative produk olahan yang dapat dibuat dari biji karet adalah kripik. Banyak para penyadap karet yang membiarkan biji karet berjatuhan dan membusuk, padahal jika mereka mau mancari biji karet tersebut banyak keuntungan yang mereka dapat.

Mereka bisa mengambil biji karet disela-selah waktu luang untuk menyadap karet. Pagi hari mereka menyadap karet pada pukul 06.00 s.d. 10.00 WIB. Usai menyadap karet mereka berhenti menunggu getah karet terisi penuh. Biasanya getah karet terisi penuh sore hari, sedangkan siang harinya mereka istirahat.

Untuk mengisi waktu istirahat, mereka bisa menggunakan waktunya mengambil biji karet. Namun mereka belum mengetahui fungsi dari biji karet yang bisa dijadikan makanan layak konsumsi, Mereka beranggapan mencari biji karet hanya membuang waktu dan pengolahan biji karet pun tidak mudah.

Setelah menyadap karet, mereka lebih suka untuk pulang ke rumah dan istirahat sambil menunggu waktu pengambilan getah karet yang telah terisi penuh. Hal ini terlihat jika inovasi daerah masih sangatlah minim.

Berdasarkan hasil kajian lapangan, ada beberapa temuan pokok tentang potensi dan masalah kehidupan masyarakat sekitar perkebunan karet di Desa Bontomangiri, Kec.Bulukumpa perlu dapat perhatian.

Pertama, terdapat biji karet melimpah dan belum dimanfaatkan. Kedua, biji karet memiliki nilai gizi tinggi. Ketiga,

bu-ibu ( istri pekerja perkebunan karet ) berpotensi membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keempat, kesejahteraan masyarakat masih kurang untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Kelima, kegiatan masyarakat yang monoton dan akses informasi teknologi masih kurang.

PkM bagi dosen UMI mencoba bermitra pihak ibu-ibu (istri pekerja kebun karet ) dalam rangka pembuatan jenis makanan camilan keripik ibu rumah tangga. Sekaligus beri pengetahuan dan keterampilan berbasis Ipteks yang nantinya pihak ibu rumah tangga diharapkan memiliki keterampilan pengolahan tempe dari bahan baku biji karet sebagai salah satu ciri makanan khas.

PkM dilakukan di Desa Bontomangiri, Kec.Bukukumpa, Kabupaten Bulukumba untuk membantu meningkatkan keterampilan cara pengolahan kripik emping berbahan dasar biji karet. Caranya dengan penerapan teknologi tepat guna yang belum pernah dilakukan.

Program kegiatan PkM ini dilakukan melalui modal kemitraan yang kegiatannya pengolahan biji karet menjadi keripik emping atas berbagai pertimbangan.

Diantaranya, Memberdayakan potensi ibu rumah tangga ( istri pekerja kebun karet ) melalui aksi program pengolahan kripik emping yang dapat memberi nilai ekonomi dan nilai sosial.

PkM perlu dilakukan untuk menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi masyarakat, terutama warga Desa Bontomangiri, Kec.Bukukumba, Kabupaten Bulukumba, yaitu tantangan dibidang ekonomi.

Perlu membangkitkan minat dan gairah masyarakat Desa Bontomangiri, sebagai mitra mengembangkan unit usaha kecil-menengah (UKM) berbasis Ipteks. Juga mengedukasi masyarakat untuk lebih memanfaatkan potensi yang ada pada biji karet.

Selanjutnya PkM diharapkan menjawab permasalahan, pengolahan biji karet menjadi keripik di Desa Bontomangiri yang belum pernah dilakukan, padahal memiliki potensi meningkatkan keterampilan, nilai konsumsi, dan pendapatan.

Metode pelaksanaannya, sosialisasi, penyuluhan dan praktek penyuluhan. Selanjutnya rencana kegiatan, program pengabdian yang dilakukan, penyuluhan, penjelasan tentangcarapengolahankeripikempingbijikaret, terutama kaitannya pemasaran, konsumsi, dan pendapatan.

Tahapan berikutnya, pelatihan/praktek cara mengolah biji karet jadi keripik emping renyah. Diharapkan semua peserta dapat praktekkannya. Tahap selanjutnya, monitoring dan evaluasi pada kelompok masyarakat sasaran yang telah ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Sosialisasi dan Bimbingan Pemanfaatan Biji karet menjadi Keripik Emping sebagai komoditas pangan UKM Masyarakat ini bertujuan, meningkatkan kreativitas ibu-ibu pekerja kebun karet dan juga meningkatkan perekonomian mereka.

Sebelum pelatihan terlebih dulu penyuluhan dan sosialisasi. Terutama bagaimana mentransfer inovasi ke anggota kelompok mitra (ibu-ibu pekerja kebun karet) untuk menambah pengetahuan. Targetnya, terjadi perubahan kognitif. Artinya pola pikir dirubah terlebih dulu untuk memudahkan pelaksanaan program PkM.

Akhir dari kegiatan, proses Pengemasan. Setelah proses pembuatan kripik emping biji karet selesai, selanjutnya diberikan pelatihan pengemasan dan pemberian label.

Proses pengemasan perlu, agar mitra mengetahui wadah yang sebaiknya digunakan mengemas agar terlihat menarik. Kemasan yang digunakan bisa dari bahan plastik gula bening (transparan) atau wadah yang lain (aluminium foil).

Setelah pengemasan selesai lalu diberi label. Sebaiknya lebel didisain dengan tulisan, nama produk dan gambar yang menarik.tutur Jeni Kamase dan St.Sukmawati.S. (rls).

 113 total views,  1 views today

By Muhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *